Jumat, 24 Juni 2016

surga neraka penghuni sudah ada?


[8:12 08/06/2016] ‪+62 813-9035-****:

Bismillah....afwan ust... Ada titipan pertnyaan....
Apakah surga dn neraka sekarang Sudah Ada atw blm...?  apakh Sudah Ada penghuninya atw masih kosong...?
Bgmnkh orang 2 kafir terdahulu para penentang nabi Dn rosul sprti raja firaun apkh Sudah di neraka atw masih di alam kubur menunggu sampai kiamat tiba..?
Kemudian para nabi Dn rosul itu sekarang tinggal di alam kubur atw di langit atw di surga..?
Mhon penjlsn para salafussolih...?

[14:41 08/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

*Surga dan Neraka telah diciptakan dan sekarang telah ada.*

*Abû Ja’far Ath-Thohâwi rohimahullôh mengatakan:*
فَاتَّفَقَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى أَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مَخْلُوقَتَانِ مَوْجُودَتَانِ الْآنَ
"Ahlus Sunnah bersepakat bahwa Surga dan Neraka adalah telah diciptakan dan telah ada pada sekarang ini.” [lihat “Syarh ‘Aqîdah Ath-Thohâwiyah” (hal.420)]

*Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb rohimahullôh mengatakan:*
وأومن بأن الجَنَّة والنَّار مخلوقتان، وأنهما اليوم موجودتان، وأنهما لاتفنيان.
“Aku beriman bahwa Surga dan Neraka telah diciptakan, dan keduanya sekarang ini telah ada, dan keduanya tidaklah akan sirna.” [lihat "Risalah ilâ Ahli Qoshîm"]

[15:22 08/06/2016] ‪+62 813-9035-***: Jawabn seljtnya ust.....
[1:32 09/06/2016] ‪+62 813-9035-****: Jazakumulloh....


[7:47 09/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

Sekedar tambahan

1. Surga dan neraka telah ada sekarang

(وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ)
[Surat Aal-E-Imran 131]
Takutlah kalian akan siksaan api neraka yang telah dipersiapkan untuk orang2 kafir

(وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)
[Surat Aal-E-Imran 133]
Berlomba2lah kalian untuk meraih ampunan dari rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah dipersiapkan untuk orang2 yang bertakwa

2. Dhohirnya masih di alam barsakh dan masuknya jin dan manusia ke dalam surga ataukah neraka itu setelah hari kiamat

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ)
[Surat Al-Mu'minun 100]
Dan setelah mereka (di dunia) adalah alam barsakh sampai tegaknya hari kiamat di mana mereka dibangkitkan.
(النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ)
[Surat Ghafir 46]
Dan neraka diperlihatkan kepada ali firaun (firaun dan pengikutnya) siang dan malam dan pada hari kiamat diperintahkan agar mereka di masukkan ke dalam neraka siksaan yang sangat pedih.

3. Adapun dalil2 tentang masuknya jin atau manusia di dalam surga sebelum tegaknya hari kiamat maka itu ruh saja

(وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ)
[Surat Aal-E-Imran 169 - 171]

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki..
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati..
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

Berkata imam muslim
باب بيان أن أرواح الشهداء في الجنة وأن أحياء عند ربهم يرزقون
bab "ulasan akan ruh2 orang yang mati syahid di surga dan mereka terus menerus diberi rezki di sisi rabb mereka"

١٢١ - (١٨٨٧) حدثنا يحيى بن يحيى، وأبو بكر بن أبي شيبة، كلاهما عن أبي معاوية، ح وحدثنا إسحاق بن إبراهيم، أخبرنا جرير، وعيسى بن يونس، جميعا، عن الأعمش، ح وحدثنا محمد بن عبد الله بن نمير، واللفظ له، حدثنا أسباط، وأبو معاوية، قالا: حدثنا الأعمش، عن عبد الله بن مرة، عن مسروق، قال: سألنا عبد الله عن هذه الآية: {ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون} [آل عمران: ١٦٩] قال: أما إنا قد سألنا عن ذلك، فقال: «أرواحهم في جوف طير خضر، لها قناديل معلقة بالعرش، تسرح من الجنة حيث شاءت، ثم تأوي إلى تلك القناديل، فاطلع إليهم ربهم اطلاعة»، فقال: " هل تشتهون شيئا؟
قالوا: أي شيء نشتهي ونحن نسرح من الجنة حيث شئنا، ففعل ذلك بهم ثلاث مرات، فلما رأوا أنهم لن يتركوا من أن يسألوا، قالوا: يا رب، نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تركوا "
masruq berkata kami telah menanyakan Abdullah bin masud akan fiman alloh alimran169 maka dia menjawab: kita juga telah menanyakan ayat tsb maka Rosululloh shollolloh alaih wa salam bersabda: ruh2 mereka berada pada ajwaf/kerongkongan burung khudrin yang mempunyai qonaadil (sepertinya sarang) yang tergantung di arsy. burung tsb (bersama ruh2mereka) bebas pergi ke mana saja dalam surga. Kemudian kembali lagi ke qonaadilnya. Maka alloh pun menampakkan diri kepada mereka dan berkata apakah kalian menginginkan sesuatu Mereka menjawab: kami butuh apa lagi? Sementara kami telah diberi kebebasan ke mana saja dlm surga. Dialog ini berulang 3 kali. Ketika mereka menyangka tidak dibiarkan tanpa permintaan maka mereka pun berkata ya rabb kami ingin dikembalikan ruh kami ke jasad kami (ke dunia) sehingga kami terbunuh lagi di jalanmu/mati syahid (karena besarnya karomah/pemuliaan2 yang mereka dapatkan ketika mati syahid). Tatkala alloh melihat mereka tidak menginginkan lagi sesuatu mereka pun ditinggalkan/dibiarkan.

Alloh a'lam

Semoga alloh mewafatkan kita semua di jalannya dan mengumpulkan kita di firdaus a'laa

Baarokalloh fiikum wa zaadakum hirson fi tholabil ilm wal amal sholih

jualbeli di pelataran, teras mesjid?


[14:48 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****: Bismillah,
Afwan Ustadz mau tnya:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

2. Ketika seseorg sengaja u/ tdk berpuasa tanpa udzur apakah dia wajib mngganti puasa tsb.?

3. Bgmna hukum berjualan di selasar (teras/ beranda) masjid...?

*pertanyaan ttipan.
جزاكم الله خيرا


[17:22 21/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

 3. Bgmna hukum berjualan di selasar (teras/ beranda) masjid...?

Jika teras ataupun pelataran tsb tdk diperuntukkan untuk sholat maka tdk mengapa.

Adapun di sebagian kampung2 di yaman, pelataran tsb memang diperuntukkan untuk sholat. Mesjidnya kecil dan masyarakatnya banyak dan sepertinya mereka senang sholat di pelataran mungkin karena udaranya. Atau mungkin juga keterbatasan mereka dari sisi biaya. Seperti ini tdk dibenarkan.

Berikut fatwa syeikhunaa abu abdirrohman alhajuri hafidzahulloh memberi indikasi kepada apa yang kita sebutkan
حكم البيع والشراء في صرح المسجد (١)

السؤال: في كثير من المساجد يقام ما يسمى: بالطبق الخيري، وهو أن النساء يجمعن أكلًا ويرسلن من يبيعه في حوش المسجد، فهل هذا جائز؟ وهل من اشترى منهن عليه إثم، أو من أكل من هذا الطبق من غير أن يشتريه؟

الإجابة: هذا فعل محدث لم يكن على عهد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ولا أصحابه..
الطبق الخيري، وأيضًا ما هو خيري بهذا، ما هو إلا طبق تجاري، فإن كان داخل ما يعد من المسجد؛ فلا يصح البيع والشراء في ذلك الموضع، بل هو حرام؛ لأن الله قد نهى عن البيع والشراء داخل المساجد قال عز من قائل: ﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ الله أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ الله وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ﴾ [النور:٣٦-٣٧]، ونهى أيضًا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن ذلك(٢)..

مداخلة: إنما هو في أحواش المساجد فقط؟!
Pertanyaan sisipan: dia hanya di pelataran mesjid saja kok?
الشيخ: حوش المسجد إن كان معدًّا للصلاة فالبيع هنا لا يجوز.
Syeikh: pelataran mesjid jika asalnya diperuntukkan untuk tempat sholat maka jualbeli di tempat tsb tdk diperbolehkan.

وإن كان غير معدٍّ للصلاة وكان خارج المسجد ويسمى ما يقدمونه بـ(طبق المسجد الخيري)؛ فهو فعل محدث؛ فإما أن يبيعوا خارج المسجد ولا يسموه هذه التسمية ولا يعتبروها عبادة؛ فلهم أن يتاجروا وأن يبيعوا ما كان مباحًا، أما أن يعتقدوا أنه طبق خيري باعتباره يباع بجوار المسجد، ويعتقدون أن فيه فضلًا.. فلا، بل يسمونه الطبق التجاري ويبيعون.

____________________
(١) الأجوبة عما بقي من الأسئلة التي عرضت على العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله، بتاريخ: ليلة السبت ٢٥ رجب ١٤٢٢ه‍.. دماج - دار الحديث.
(٢) كما في حديث عبد الله بن عمرو عند أبي داود رقم (١٠٧٩)، والترمذي رقم (٣٢٢).

Afwan ana terjemah intinya saja
Allohulmustaan

[21:46 21/06/2016] ‪+62 882-6169-****:

جزا ك الله خيرا أستاذ

batalkan puasa, ganti?


[14:48 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****:

Bismillah,
Afwan Ustadz mau tnya:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

2. Ketika seseorg sengaja u/ tdk berpuasa tanpa udzur apakah dia wajib mngganti puasa tsb.?

3. Bgmna hukum berjualan di selasar (teras/ beranda) masjid...?

*pertanyaan ttipan.
جزاكم الله خيرا

[17:21 21/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

 2. Ketika seseorg sengaja u/ tdk berpuasa tanpa udzur apakah dia wajib mngganti puasa tsb.?

Tidak dan kewajibannya adalah taubat dan memperbanyak puasa sunnah
Udzur mengganti puasa terbatas pada sakit dan safar saja alloh a'lam

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Albaqoroh 185

Alloh a'lam


[21:46 21/06/2016] ‪+62 882-6169-****: جزا ك الله خيرا أستاذ



[16:04 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

 ✔✔ *YANG ROJIH dari beberapa pendapat dari Ahlul ‘Ilmi adalah apa yang dirinci oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimîn rohimahullôh. Yaitu dengan dua perincian:*
1⃣PERTAMA: Diharuskan qodho’ kalau misalkan dia puasa kemudian ditengah-tengah hari dia puasa berbuka tanpa ada udzur, maka baginya dosa serta mengqodho hari yang dimana dia berbuka puasa.
2⃣KEDUA: Tidak ada qodho’ kalau ia meninggalkan puasa dari awalnya secara sengaja tanpa ada udzur pada siang hari di bulan Romadhôn.

🛍⏱Dan hendaknya juga ia bertaubat serta memperbanyak amal sholih, istighfar dan banyak-banyak berpuasa sunnah.

Maka kita tutup pembahasan ini dengan faedah dari Imâm Adz-Dzahabî rohimahullôh:
وَعِنْدَ الْمُؤْمِنِينَ مُقَرَّرٌ أَنَّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَالصَّوْمَ أَنَّهُ شَرٌّ مِنْ الزَّانِي وَمُدْمِنِ الْخَمْرِ بَلْ يَشُكُّونَ فِي إسْلَامِهِ وَيَظُنُّونَ بِهِ الزَّنْدَقَةَ وَالْإِلْحَادَ ..
“Di sisi kaum mu’minin telah ditetapkan bahwa barang siapa yang meninggalkan sholat dan puasa, maka ia lebih jelek daripada seorang pezina dan pecandu minuman keras. Bahkan dipertanyakan tentang keislamannya, dan ditertuduh dengan zandaqoh (kemunafikan) dan ilhâd (penyelewangan).” [lihat “Al-Kabâ’ir” (hal.64)]

🖌Abû Muhammad Fuad Hasan bin Mukiyi, Romadhon 1437 Hijriyyah.📖


[22:38 22/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

 اللهم بارك
جزاك الله خيرا


[16:00 22/06/2016] ‪+62 822-4552-***: بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

🍱🍹 *PEMBAHASAN TENTANG HUKUM ORANG YANG BERBUKA PUASA DENGAN MAKAN DAN MINUM SEBELUM WAKTUNYA DI BULAN ROMADHON* 🌅

✍🏼الْحَمْد لله الَّذِي أعظم علينا الْمِنَّة بِالْإِسْلَامِ وَالسّنة، ووفقنا بفضله لِلِاتِّبَاعِ، وعصمنا برحمته من الابتداع.
وَصلى الله على مُحَمَّد سيد الْمُرْسلين، وَإِمَام الْمُتَّقِينَ، وَخَاتم النَّبِيين، أما بعد

📌Perlu kita ketahui bersama bahwa berbuka puasa pada bulan Romadhôn sebelum waktu berbuka adalah dosa besar. Sebagaimana hadits Rosulullôh shollallôhu alaihi wa sallam bersabda:
...ثُمَّ انْطُلِقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ....
“Kemudian aku dibawa, maka akupun melihat suatu kaum yang digantung dengan tali urat mereka yang terbelah samping mulut mereka yang meneteskan darah, maka aku berkata: “Siapakah mereka?” ia menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktu berbuka puasa.” [HR. An-Nasâ’i dalam Al-Kubro” (2/246) dari Abî Umâmah rodhiyaAllôhu ‘anhu, dan hadits dishohihkan oleh Al-Albânî dan Al-Wâdi’î].

☘Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rohimahullôh mengatakan:
مَنْ أَفْطَرَ عَامِدًا بِغَيرِ عُذْرٍ كَانَ تَفْوِيتُهُ لَهَا مِنَ الكَبَائِرِ. اهـ.
“Barang siapa berbuka (puasa) secara sengaja tanpa ada udzur, maka menyepelekan hal tersebut termasuk dari dosa besar.”

☘Asy-Syaikh Al-Albânî rohimahullôh mengatakan:
أَقُولُ: هَذِهِ عُقُوبَةٌ مَنْ صَامَ ثُمَّ أَفْطرَ عَمْدًا قَبْلَ حُلُولِ وَقْتِ الإِفْطَارِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ مَنْ لاَ يَصُومُ أَصْلاً؟! نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا والآخِرَةِ.
“Aku katakan: ini adalah hukuman bagi orang yang berpuasa kemudian berbuka secara sengaja sebelum waktu dibolehkan berbuka, maka bagaimana dengan keadaan orang yang tidak puasa sama sekali?! Kita meminta keselamatan dan ‘afiyah di Dunia dan Akhirat.” [lihat “Shohîh Mawârid Dzom’ân” (2/199)].
[16:00 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: ❗🔨Telah datang sebuah hadits tentang ancaman bagi orang yang sengaja berbuka pada siang hari di bulan Romadhôn.
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ .
“Barang siapa berbuka puasa pada bulan Romadhôn tanpa ada udzur (alasan) dan tidak pula sakit, maka tidaklah bisa ia menggantinya dengan puasa selama-lamanya, kalau ia berpuasa.” [Hadits disebutkan oleh Al-Bukhôri secara ta’liq dengan shigoh tamrîdh]

Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullôh mengatakan:
«وَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ ، لاَ يُحَتَجُّ بِمِثْلِهِ»
“Itu adalah hadits yang dho’îf, tidak (bisa) dibuat hujjah dengan yang semisalnya.” ([At-Tamhîd” (7/173)]

Al-Albânî rohimahullôh mengatakan:
«الحَدِيْثُ ضَعِيْفٌ ، وَقَدْ أَشَارَ لِذَلِكَ البُخَارِيُّ بِقَولِهِ : "وَيُذْكَرُ" ، وَضَعَّفَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيْحِهِ وَالمُنْذِرِي وَالبَغَوِي وَالقُرْطُبِي وَالذَّهَبِيّ وَالدَّمِيْرِي فِيْمَا نَقَلَهُ المُنَاوِي».
“Hadits tersebut dho’îf, telah diisyaratkan hal tersebut oleh Al-Bukhôri dengan ucapannya: (dan disebutkan), hadits telah didho’îfkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya, Al-Mundzirî, Al-Baghwî, Al-Qurthubî, Adz-Dzahabî dan Ad-Damîrî sebagaimana di nukilkan oleh Al-Munâwî.” [lihat “Tamâmul Minnah” (hal.396)]

🔵Adapun makna hadits tersebut adalah apa yang disebutkan oleh Imam Al-Baghowî rohimahullôh:
هَذَا عَلَى طَرِيقِ الإِنْذَارِ وَالإِعْلامِ بِمَا لَحِقَهُ مِنَ الإِثْمِ، وَفَاتَهُ مِنَ الْأَجْرِ، فَالْعُلَمَاءُ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّهُ يَقْضِي يَوْمًا مَكَانَهُ.
“Hadits ini maknanya dengan cara peringatan dan pemberitahuan terhadap apa yang dia dapati dari dosa dan apa yang dia lewatkan dari pahala. Maka para ‘Ulama telah bersepakat bahwasanya wajib baginya untuk mengganti hari yang ia tinggalkan.” [lihat “Syarhus Sunnah” (6/290)]

💥 *Para salaf berselisih dalam hal wajibnya menqodho bagi yang berbuka puasa di siang hari pada bulan Romadhôn;*

📝‘Ali bin Abî Thôlib mengatakan:
«مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا لَمْ يَقْضِهِ أَبَدًا طِوَالَ الدَّهْرِ»
“Barang siapa berbuka puasa pada bulan Romadhôn dengan sengaja, ia tidaklah bisa menggantinya selama-lamanya, sepanjang waktu.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12571)]

📝Abu Huroiroh rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan:
«مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَمْ يُجْزِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ»
“Barang siapa berbuka puasa pada bulan Romadhôn tanpa ada rukhshoh (keringanan) maka tidaklah bisa ia menggantinya dengan puasa selama-lamanya.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12569)]

📝'Abdullôh bin Hârits mengatakan:
«مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا مِنْ غَيْرِ سَفَرٍ، وَلَا مَرَضٍ، لَمْ يَقْضِهِ أَبَدًا، وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ»
“Barang siapa berbuka puasa pada bulan Romadhôn dengan sengaja tanpa karena safar dan tidak pula sakit, ia tidaklah bisa menggantinya selama-lamanya, walaupun ia puasa setahun penuh.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12570)]
[16:01 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: 📝عَنْ عَامِرٍ، فِي الَّذِي يُفْطِرُ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ، قَالَ: «يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَيَتُوبُ إِلَيْهِ، وَلَا يَعُدْ، وَيَقْضِي يَوْمًا مَكَانَهُ»
Dari ‘Âmir tentang orang yang berbuka sehari dari bulan Romadhôn, ia berkata: “Beristighfar kepada Alloh, bertaubat kepadanya, dan tidak mengulangi hal tersebut serta mengqodho hari yang telah ia tinggalkan.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12572)]

📝عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، فِي الرَّجُلِ يُفْطِرُ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا، قَالَ: «عَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ»
Dari Ibnu Musayyib tentang orang yang berbuka sehari dari bulan Romadhôn secara sengaja, ia berkata: “Hendaknya ia puasa sebulan.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12573)]

📝عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: «عَلَيْهِ صِيَامُ ثَلَاثَةِ آلَافِ يَوْمٍ»
Dari Ibrôhîm berkata: “Hendaknya ia puasa 3000 hari.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12574)]

عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: «يَتُوبُ، وَيَسْتَغْفِرُ، وَيَصُومُ يَوْمًا مَكَانَهُ»
Dari Ibrôhîm berkata: “Hendaknya ia bertaubat, beristighfar dan puasa sehari yang ia tinggalkan.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12576)]

📝عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فِي رَجُلٍ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا، قَالَ: «يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ مِنْ ذَلِكَ، وَيَتُوبُ إِلَيْهِ، وَيَقْضِي يَوْمًا مَكَانَهُ»
Dari Sa’îd bin Jubair tentang orang yang berbuka puasa sehari dari bulan Romadhôn secara sengaja, beliau berkata: “Beristighfar dari hal tersebut, bertaubat kepadanya, dan mengganti puasa yang ia tinggalkan.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12577)]

📝قَالَ عَاصِمٌ: سَأَلْتُ جَابِرَ بْنَ زَيْدٍ أَبَا الشَّعْثَاءَ، فَقُلْتُ: أَبَلَغَكَ فِي مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ، مَاذَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ لِيَصُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ، وَيَصْنَعُ مِنْ ذَلِكَ مَعْرُوفًا»
‘Âshim berkata: aku bertanya kepada Jâbir bin Zaid Abusy Sya’tsâ. Aku katakan: “Apakah telah tersampaikan padamu tentang perkara orang yang berbuka puasa pada bulan Romadhôn, apa yang harus ia kerjakan?” ia menjawab: “Belum sampai kepadaku, akan tetapi hendaknya ia puasa sehari yang dimana ia tinggalkan, serta berbuat  perkara yang ma’ruf.” [AR. Ibnu Abî Syaibah (no.12575)]

🔴Dan pendapat menqodho puasa yang ia tinggalkan dengan sengaja adalah pendapat dari madzhab Asy-Syâfi’iyyah dan Al-Hanâbilah. Dan ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz rohimahulloh, beliau mengatakan:
«أَمَّا الفِطْرُ بِالأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَنَحْوُ ذَلِكَ لَيْسَ فِيْهِ كَفَّارَةٌ بَلْ فِيْهِ التّوْبَةُ إِلَى اللهِ وَالنَّدْم وَالعَزْم أَن لاَّ يَعُودَ فِي ذَلِكَ، وَكَثْرَةُ الاِسْتِغْفَارِ, مَعَ القَضَاءَ -قَضَاءُ اليَومِ الَّذِي أَفْطَرَهُ-.
“Adapun berbuka dengan makan, minum maupun yang semisal dengannya, tidak ada padanya kaffaroh, bahkan harus baginya untuk bertaubat kepada Alloh, menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulang perbuatan tersebut, memperbanyak istighfar disertai dengan mengganti –mengganti yang ia berbuka.”  [lihat : http://www.binbaz.org.sa/noor/4602]
[16:01 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: 🔬Sebagian ahlul ‘ilmi memandang bahwa dalam permasalahan berbuka sengaja pada bulan Romadhôn harus membayar kaffaroh, karena alasannya sama dengan orang yang membatalkan puasa dengan jima’ yaitu menerjang kehormatan bulan Romadhon. Ibnu Hajar rohimahulloh mengatakan:
قَالَ بن بَطَّالٍ أَشَارَ بِهَذَا الْحَدِيثِ إِلَى إِيجَابِ الْكَفَّارَةِ عَلَى مَنْ أَفْطَرَ بِأَكْلٍ أَوْ شُرْبٍ قِيَاسًا عَلَى الْجِمَاعِ وَالْجَامِعُ بَيْنَهُمَا انْتَهَاكُ حُرْمَةِ الشَّهْرِ بِمَا يفْسد الصَّوْم عمدا وَقرر ذَلِك الزَّبْن بْنُ الْمُنِيرِ بِأَنَّهُ تَرْجَمَ بِالْجِمَاعِ لِأَنَّهُ الَّذِي وَرَدَ فِيهِ الْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ وَإِنَّمَا ذَكَرَ آثَارَ الْإِفْطَار ليفهم أَن الْإِفْطَار بِالْأَكْلِ وَالْجِمَاع بِمَعْنى وَاحِدٌ انْتَهَى
“Ibnu Bathol mengatakan: mengisyaratkan hadits ini tentang wajibnya kaffaroh bagi orang yang berbuka puasa dengan makan, minum sebagai qiyas pada jima’. Dan yang menggabungkan diantara kedua perkara adalah pelanggaran terhadap kehormatan yang mengakibatkan rusaknya puasa secara sengaja. Dan telah ditetapkan hal tersebut oleh Az-Zain bin Al-Munayyir bahwasanya ia (Al-Bukhori) memberikan tarjamah dengan (tema) jima’ karena yang datang dalam hadits musnad tersebut, akan tetapi hanyalah disebutkan atsar-atsar berbuka, bisa difahami adalah bahwa berbuka dengan makan dan jima’ adalah maknanya satu. (selesai).” [lihat “Fathul Bâri” (4/161)].

⛏⛔Pendapat yang mewajibkan kaffaroh adalah pendapat dari madzhab Al-Hanafiyyah dengan syarat cara membatalkan dengan sesuatu makanan yang lewat mulut karena hal tersebut seseorang bisa melampiaskan syahwat perutnya sebagaimana ini semisal dengan orang yang melampiaskan syahwat kemaluannya dengan jima’. Ibnu Qudâmah rohimahullôh mengatakan:
حُكِيَ عَنْ عَطَاءٍ، وَالْحَسَنِ وَالزُّهْرِيِّ وَالثَّوْرِيِّ وَالأَْوْزَاعِيِّ وَإِسْحَاقَ أَنَّ الْفِطْرَ بِالأَْكْل وَالشُّرْبِ يُوجِبُ مَا يُوجِبُهُ الْجِمَاعُ.
أَمَّا مَا لاَ يُقْصَدُ بِهِ التَّغَذِّي أَوِ التَّدَاوِي كَبَلْعِ الْحَصَاةِ أَوِ التُّرَابِ أَوِ النَّوَاةِ وَنَحْوِهَا فَلاَ تَجِبُ فِيهِ الْكَفَّارَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَكَذَا إِنْ بَاشَرَ دُونَ الْفَرْجِ فَأَنْزَل أَوِ اسْتَمْنَى
“Dihikayatkan dari ‘Atho, Hasann, Az-Zuhri, Ats-Tsauri Al-Auza’î dan Ishâq bahwasanya berbuka dengan makan dan minum mewajibkan padanya sebagaimana apa yang diwajibkan (bagi orang yang membatalkan puasa) dengan jima’. Adapun sesuatu yang tidak dimaksudkan dengannya makan atau berobat seperti menelan kerikil, tanah atau biji kurma atau yang semisalnya, maka tidak ada kewajiban kaffaroh menurut madzhab Al-Hanafiyyah, begitu juga bagi yang bersentuhan dengan perempuan tanpa di kemaluan kemudian keluar mani atau dikeluarkan maninya.” [lihat: “Al-Mughnî” (3/115)]
[16:02 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: 🔬⭕Sebagian Ahlul ‘ilmi berpendapat tentang  tidak wajibnya mengqodho’ puasa yang ia tinggalkan pada bulan Romadhon dengan sengaja. Yang pendapat ini merupakan mufrodât (sesuatu yang menyendiri) dari madzhab Hanâbilah, Al-Mardâwî Al-Hanbalî mengatakan:
وَاخْتَارَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ لَا يَقْضِي من أَفْطَرَ مُتَعَمِّدًا بِلَا عُذْرٍ وَكَذَلِكَ الصَّلَاةُ، وقال لَا تَصِحُّ عنه... وهو من مُفْرَدَاتِ الْمَذْهَبِ.
“Asy-Syaikh Taqiyuddîn (Ibnu Taimiyyah) memilih untuk tidak mengqodho’ bagi siapa yang berbuka secara sengaja, begitu juga sholat, seraya berkata: tidak sah darinya ... dan ini termasuk dari mufrodât madzhab.” [lihat “Al-Inshôf”]

✔Ini juga yang dirojihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albânî rohimahulloh ketika beliau ditanya:
مَنْ أَفْطَرَ مُتَعَمِّدًا هَلْ يَنْفَعُهُ صِيَامُ التَّطَوُّعِ حَيْثُ لَا دَلِيْلَ عَلَى الفِطْرِ مُتَعِّمِد؟
Bagi yang berbuka (puasa) sengaja, apakah bermanfaat puasa tathowwu’; padahal tidak ada dalil untuk orang yang berbuka puasa secara sengaja?

Jawaban:
فَأَجَابَ: لاَ شَكَّ أَنَّهُ يَنْفَعُهُ كَالَّذِي قَدْ ضَيَّعَهَا كَثِيْرًا مِنَ الفَرَائِضِ فَيَنْفَعُهُ أَنْ يُعَوِّضَ مِمَّا فَاتَهُ بِصَلاَةٍ نَوَافِلَ، كَذَلِكَ الَّذِي أَفْطَرَ يَومًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا فَلَا سَبِيْلَ لَهُ مِنَ القَضَاءِ وَهُوَ آثِمٌ بِأَشَدِّ الإِثْمِ حَتَّى يَتُوبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تَوْبَةً نَصُوحًا. وَلْيُعَوِّضْ مَا فَاتَهُ مِنَ الحَسَنَاتِ بِسَبِبِ إِفْطَارِهِ فَلْيُكْثِرْ مِنْ نَوَافِلٍ حَتَّى يُعَوِّضَ شَيءٌ مِمَّا فَاتَهُ.
“Tidak diragukan bahwa hal tersebut bermanfaat baginya, seperti orang yang banyak menyia-nyiakan dari faroidh (kewajiban), maka bermanfaat baginya dengan dia mengganti dari apa yang telah lewat dengan sholat nafilah. Begitu juga dengan orang yang berbuka puasa di bulan Romadhôn dengan sengaja, maka tidak ada jalan baginya untuk mengqodho’, dalam keadaan ia telah berdosa dengan dosa yang besar sampai bertaubat kepada Allôh dengan taubat yang nashûha. Dan hendaknya ia mengganti dari apa yang ia lewatkan dari kebaikan dengan sebab berbuka puasa (dengan sengaja) dengan memperbanyak nafilah agar bisa mengganti apa yang telah ia lewatkan.” [lihat https://www.youtube.com/watch?v=Xii65wq-35w]
[16:03 22/06/2016] ‪+62 822-4552-*****: ☑Begitu juga Asy-Syaikh Muqbil Al-Wâdi’i rohimahulloh. Beliau pernah ditanya:
مَا حُكْمُ مَنْ تَرَكَ صِيَامَ يَومٍ مِنْ رَمضَانَ عَمْدًا هَلْ يَقْضِي أَمْ لاَ ؟
“Apa hukum orang yang meninggalkan puasa dari bulan Romadhôn secara sengaja, apakah harus mengganti atau tidak?
Jawab:
«إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ، أَمَّا القَضَاءُ فَلاَ نَلْزَمُ أَحَدًا بِالقَضَاءِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ : " فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ " مَا قَالَ وَمَنْ أَفْطَرَ عَمْدًا ، وَهَكَذَا وَرَدَ فِي السُّنَّةِ القَضَاءُ عَلَى الحَائضِ ، وَمَا ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - يُضَافُ إِلَى هَذِهِ الأَشْيَاءِ .
أَمَّا المُتَعَمِّدُ فَعَليَه ِأَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ ، وَهُنَاكَ حَدِيْثٌ نُنَبِّهُ عَلَيْهِ رَوَاهُ البُخَارِي فِي صَحِيْحِهِ تَعْلِيْقاً وَهُوَ ضَعِيْفٌ : «مَنْ أَفْطَرَ يَومًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَلاَ يَقْضِيْهِ صِيَامُ الدَّهْرِ »، أَوْ بِهَذَا المَعْنَى فَهَذَا الحِدِيْثُ ضَعِيْفٌ لِأَنَّهُ مِنْ طَرِيْقِ أَبِي المُطَوِّسِ» .
“(Urusannya diserahkan) kepada Allôh subhanahu wa ta’âla, adapun mengganti; maka tidaklah ada pengharusan untuk seorang pun untuk mengganti, karena Allôh ‘azza wa jalla mengatakan:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barang siapa diantara kalian sakit atau safar, maka mengganti pada waktu yang lain.” Allôh tidaklah mengatakan “Barang siapa yang berbuka (puasa) dengan sengaja.”.
Begitu juga telah datang dalam as-sunnah tentang qodho’ diharuskan atas orang yang haidh. Dan apa yang datang dari Nabi shollallôhu alaihi wa ala alihi wa sallam disandarkan pada perkara-perkara ini.
Adapun orang yang sengaja, maka hendaknya ia bertaubat kepada Allôh. Dan disana ada hadits yang hendak kita beritahukan; yaitu apa diriwayatkan oleh Al-Bukhôri dalam shohihnya secara ta’lîq dan ini hadits yang dho’if:
«مَنْ أَفْطَرَ يَومًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَلاَ يَقْضِيْهِ صِيَامُ الدَّهْرِ »
“Barang siapa berbuka puasa sehari tanpa ada udzur, maka ia tidak bisa mengganti dengan puasa setahun.” Atau semakna dengan ini, maka hadits dho’if, karena dari jalur Abil Muthowwis.” [dari kaset “As’ilah min madînah al-Husainiyyah”]
[16:03 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: ✅📶Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimîn rohimahullôh memberikan perincian dalam permasalahan orang yang sengaja berbuka pada siang hari di bulan Romadhôn. Beliau rohimahullôh ditanya:
حُكْمُ الفِطْرِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ بِدُونِ عُذْرٍ؟
“Hukum berbuka (puasa) pada siang hari di bulan Romadhôn tanpa ada udzur?

Jawaban:
الفِطْرُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ بِدُونَ عُذْرٍ مِنْ أَكْبَرِ الكَبَائِرِ، وَيَكُونُ بِهِ الإِنْسَانُ فَاسِقاً، وَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ، وَأَنْ يَقْضِي ذَلِكَ اليَوم الَّذِي أَفْطَرَهُ، يَعْنِي لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَفِي أَثْنَاءِ اليَومِ أَفْطَرَ بِدُونِ عُذْرٍ فَعَلَيْهِ الإِثْم، وَأَنْ يَقْضِيَ ذَلِكَ اليَوْم الَّذِي أَفْطَرَهُ؛ لِأَنَّهُ لمَاَّ شَرَعَ فِيْهِ الْتَزَمَ بهِ وَدَخَلَ فِيْهِ عَلَى أَنَّهُ فَرْضٌ فَيُلْزِمُهُ قَضَاؤُهُ كَالنَّذْرِ،
“Berbuka pada siang hari bulan Romadhôn tanpa ada udzur adalah sebesar-besarnya dosa besar serta menjadikan orang tersebut menjadi fasiq. Dan wajib baginya untuk bertaubat kepada Allôh serta mengganti hari yang dimana dia berbuka puasa tersebut, yakni kalau seandainya dia puasa kemudian ditengah-tengah hari dia puasa berbuka tanpa ada udzur, maka baginya dosa serta mengqodho hari yang dimana dia berbuka puasa, karena ia telah melaksanakan puasa tersebut serta menetapi dan masuk (pada puasa tersebut) dalam keadaan meyakini hal tersebut adalah wajib, maka dia diharuskan untuk mengganti, (keadaan tersebut) seperti bernadzar.
[16:03 22/06/2016] ‪+62 822-4552-****: 🔹أَمَّا لَوْ تَرَكَ الصَّوْمَ مِنَ الأَصْلِ مُتَعَمِّداً بِلاَ عُذْرٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ القَضَاء، لِأَنَّهُ لاَ يَسْتَفِيْدُ بِهِ شَيْئاً، إِذْ أَنَّهُ لَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ، فَإِنَّ القَاعِدَةَ أَنَّ كُلَّ عِبَادَةٍ مُؤَقَّتَةٍ بِوَقْتٍ مُعَيَّنٍ فَإِنَّهَا إِذَا أَخَّرَتْ عَنْ ذَلِكَ الوَقْتِ المُعَيَّنِ بِلاَ عُذْرٍ لَمْ تُقْبَلْ مِنْ صَاحِبِهَا، لِقَولِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» . وَلِأَنَّهُ مَنْ تَعَدَّي حُدَودَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَتَعَدِّي حَدُودَ اللهِ تَعَالَى ظُلْمٌ، والظَّالِمُ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: {وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَأُوْلَائِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} . وَلِأَنَّهُ لَوْ قَدَّمَ هَذِهِ العِبَادَةَ عَلَى وَقْتِهَا أَيّ فَعَلَهَا قَبْلَ دُخُولِ الوَقْتِ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ، فَكَذَلِكَ إِذَا فَعَلَهَا بَعْدَهُ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَعْذُوْراً.
“Adapun kalau ia meninggalkan puasa dari awalnya secara sengaja tanpa ada udzur, maka yang rojih adalah tidak diharuskan padanya qodho’, karena ia tidaklah mendapatkan faedah dengannya suatu apapun, disebabkan keadaan tersebut tidak diterima darinya (amalan). Kaedah pada hal ini: “Setiap ibadah yang ada jangka waktunya dengan waktu tertentu, maka apabila diakhirkan dari waktunya tertentu tanpa ada udzur, maka tidak diterima (ibadah tersebut) dari pelakunya.” Sebagaimana sabda Nabi shollallôhu alaihi wa sallam:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak (contohnya) dari perkara kami maka itu tertolak.”
Karena dia (juga) adalah orang yang melampaui batas-batas Alloh ‘Azza wa Jalla, dan melampaui batas-batas Allôh ta’âla adalah orang yang dzolim, dan orang yang dzolim tidak diterima darinya (amalan), Allôh ta’âla berfirman:
{وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَأُوْلَائِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ}
“Barang siapa melampaui batas-batas Allôh maka merekalah orang-orang yang dzolim.”
Dan (alasan) yang lainnya adalah kalau seandainya dia memajukan ibadah ini dari waktunya yakni maksudnya adalah mengerjakannya sebelum masuk waktunya, maka tidaklah diterima, begitu juga melaksanakan ibadah setelahnya (dari waktu yang ditentukan) maka tidaklah diterima kecuali kalau ia adalah orang memiliki udzur.” [lihat “Majmû Fatâwa wa Rosâ’il Ibni Utsaimîn” (19/89-90)].

Bahkan Ibnu Rusyd rohimahullôh menganggap tidak wajibnya mengqodho puasa orang yang membatalkan puasa secara sengaja dengan makan dan minum adalah syâdz (nyleneh). Beliau rohimahullôh mengatakan:
أَمَّا مَنْ أَفْطَرَ مُتَعَمِّدًا فَلَيْسَ فِي إِيجَابِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ نَصٌّ، فَيَلْحَقُ فِي قَضَاءِ الْمُتَعَمِّدِ الْخِلَافُ الَّذِي لَحِقَ فِي قَضَاءِ تَارِكِ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى خُرُوجِ وَقْتِهَا، إِلَّا أَنَّ الْخِلَافَ فِي هَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ شَاذٌّ.
“Adapun orang yang berbuka (puasa) dengan sengaja, tidaklah ada pada pengwajiban qodho’nya baginya itu nash, maka hal tersebut diikutkan pada (permasalahan) pengqodho’an orang yang sengaja dengan perselisihan yang mengikutkan padanya qodho’ bagi yang meninggalkan sholat secara sengaja sampai keluar dari waktunya, akan tetapi khilaf (penyelisihan) dalam dua masalah ini adalah perkara yang syâdz.” [lihat “Bidâyatul Mujtahid” (2/64)]


Kamis, 23 Juni 2016

puasa tidak sholat?


[14:48 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****: Bismillah,
Afwan Ustadz mau tnya:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

2. Ketika seseorg sengaja u/ tdk berpuasa tanpa udzur apakah dia wajib mngganti puasa tsb.?

3. Bgmna hukum berjualan di selasar (teras/ beranda) masjid...?

*pertanyaan ttipan.
جزاكم الله خيرا

[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

Yang rojih dari pendapat Ahlul ‘Ilmi adalah orang yang meninggalkan sholat secara sengaja adalah orang yang kafir dengan kekufuran akbar.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهٍ رَضِيَ اللَّهُ، عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh rodhiyaAllôhu ‘anhuma berkata: bersabda Rosulullôh shollallôhu alaihi wa sallam: “Antara seorang hamba dan kekufuran (terdapat) pada (perkara) meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dll]

عَنْ بُرَيْدَةَ  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ "
Dari Buroidah berkata: aku mendengar Rosulullôh shollallôhu alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, barang siapa yang meninggalkannya maka ia ia telah kafir.” [HR. Ahmad (22937) dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dan Al-Wâdi’i.]

عَنْ مَعْقِلٍ الْخَثْعَمِيِّ، أَنَّ رَجُلًا، سَأَلَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ امْرَأَةٍ، لَا تُصَلِّي فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَهُوَ كَافِرٌ»
Dari Ma’qil Al-Khots’amî berkata: ada seorang bertanya kepada ‘Ali bin Abî Thôlib rodhiyaAllôhu tentang seorang perempuan yang tidak mengerjakan sholat, maka ‘Ali rodhiyaAllôhu berkata: “Barang siapa yang tidak melaksanakan sholat, maka dia kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.933)]

عَنْ زِرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: «مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَلَا دِينَ لَهُ»
Dari Zirr (bin Hubaisy) berkata: ‘Abdullôh (Ibnu Mas’ûd) rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: “Barang siapa tidak mengerjakan sholat maka tidak ada agama baginya.”  [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.935)]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ فَقَدْ كَفَرَ»
Dari Ibnu ‘Abbâs rodhiyaAllôhu ‘anhuma berkata: “Barang siapa meninggalkan sholat, maka dia telah kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.939)]


[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****

: عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ: «لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا صَلَاةَ لَهُ»
Dari Abud Darda’ rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: “Tidak ada keimanan bagia yang tidak mengerjakan sholat.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.945)]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قُلْتُ لَهُ: مَا كَانَ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ عِنْدَكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ»
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh Al-Anshôrî rodhiyaAllôhu ‘anhu seorang shohabat Rosulullôh berkata: aku (Mujâhid bin Jabr) bertanya kepadanya: Dengan apa dibedakan antara kekafiran dan iman di sisi kalian dari suatu amalan pada zaman Rosulullôj shollallôhu alaihi wa sallam? Ia berkata: “Sholat”. [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.893)]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمْ يَكُنْ  أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الْأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلَاةِ "
Dari ‘Abdullôh bin Syaqîq rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: Tidaklah para shohabat Rosulullôh memandang sesuatu perkara dari suatu amalan yang (apabila) ditinggalkan adalah kekufuran selain dari sholat.”  [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.948)]

Sa’îd bin Jubair rohimahullôh mengatakan:
«مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ»
“Barang siapa meninggalkan sholat secara sengaja, maka sungguh telah kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.919)]

Orang yang meninggalkan sholat juga dihapuskan amalannya.
عَنْ أَبِي مَلِيحٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِي غَزَاةٍ فِي يَوْمٍ ذِي غَيْمٍ فَقَالَ: بَكِّرُوا بِالصَّلَاةِ؛ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ "
Dari Abî Malîh berkata: suatu ketika kita bersama dengan Buroidah pada peperangan yang suasana hari itu sedang mendung, maka ia berkata: Segerakanlah untuk sholat. Karena Rosulullôh bersabda: “ Barang siapa meninggalkan sholat ashar maka telah terhapus amalannya.” [HR. Al-Bukhôrî (no.594)]

‘Umar bin Al-Khoththôb mengatakan:
لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ
“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” [AR. Mâlik dalam “Al-Muwaththo’” (no.51)].


[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

 Dan ketahuilah bahwa orang yang menyia-nyiakan ibadah sholatnya, maka pada perkara ibadah yang lainnya lebih disia-siakan.
عَنْ نَافِعٍ، مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الَخْطَّابِ كَتَبَ إِلَى عُمَّالِهِ: إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ، مَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا، حَفِظَ دِينَهُ، وَمَنْ ضَيَّعَهَا، فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ.
Dari Nâfi’, maula ‘Abdillâh bin ‘Umar, bahwasanya ‘Umar bin Al-Khoththôb menulis kepada para pekerjanya: “Sesungguhnya yang paling terpenting dari perkara kalian di sisiku adalah (perkara) sholat. Barang siapa menjaganya serta memeliharanya, maka ia telah menjaga (agamanya), dan barang siapa menyia-nyiakan, maka pada perkara selainnya lebih disia-siakan.” [AR. Mâlik dalam “Al-Muwaththo’” (no.9) dengan sanad yang shohih].

Maka tidak sah puasa maupun ibadahnya orang yang tidak sholat sampai dia bertaubat kepada Allôh.
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ.
“Sesungguhnya Allôh hanyalah menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” [QS. Al-Maidah:27]

Begitu juga dia tidaklah mendapatkan pahala puasa maupun pahala ibadah yang lainnya ketika ia meninggalkan sholat secara sengaja.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [QS. Al-Furqon:23]

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allôh disisinya, lalu Allôh memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allôh adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”

waAllôhu a’lam bis showâb.

[20:26 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****:

Jazaakallohu khoyron ustadz


[17:13 21/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

جزاكم الله خيرا

1. Masalah kufur ataupun tidaknya org yang meninggalkan sholat bermalas2an merupakan masalah khilaf yang sangat pelik dengan dalil2 yang kuat dari kedua belah pihak sampai sebagian ulama tidak berani untuk mengkafirkan seperti empat imam madzhab: i.malik, i.asysyafi'i, i.abu hanifah dan i.ahmad (salah satu dari dua riwayat darinya)  dan belakangan ana ketahui syeikh albani rohimahumulloh dan syeikhunaa Muhammad bin hizam...dsl hafidzahumulloh

Dalil2 pendapat pihak pertama alhamdulillah telah dipaparkan oleh akhunaa...hafidzahulloh (afwan namanya tdk muncul setelah hp ana restart munculnya fid@)

Dalil2 pihak kedua juga banyak ini di antaranya dan mereka mengarahkan seluruh dalil2 kelompok pertama dg kufur duna kufur (kufrun ashghor) demi untuk mengambil seluruh dalil shg tdk menelantarkan sebagiannya

هذا الحديث رواه أبو داود (٤٢٥)، وأحمد (٢٢١٩٦) عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله عليه وسلم يقول: (خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلَّاهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ، وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ، كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ، فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ)،
وصححه الألباني رحمه الله
"Sholat 5 waktu  alloh taala telah wajibkan maka barangsiapa yang menyempurnakan wudhu untuk sholat tsb dan melaksanakannya tepat pada (awal) waktunya dan menyempurnakan ruku dan khusyunya maka dia mendapat janji/jaminan dari alloh subhanah wa taala berupa ampunan dan barangsiapa tidak melakukannya maka dia tdk mendapat jaminan tsb maka jika alloh ingin dia akan ampuni dan jika alloh tdk ingin mengampuninya maka pasti akan menyiksanya"

Dalil ini menunjukkan bahwa Alloh subhanah wa taala menjadikan dosa meninggalkan sholat di bawah kehendaknya. adapun kufur akbar/syirik alloh sudah memastikan tidak akan mengampuninya.

Adapun meninggalkan dg juhud/menentang kewajibannya shg bersengaja meninggalkannya mereka semua sepakat akan kekufurannya

Almuhim masalah ini sangat pelik maka butuh kelapangan dada, semoga alloh menyatukan hati2 kita di bawah cahaya alquran dan sunnah Rosululloh shollolloh alaih wa sallam

Diterima tdknya puasanya bagi ana kurang bahkan tidak penting untuk dipanjanglebarkan dan yang terpenting bagi saya adalah:
Dinasihatkan kepadanya untuk bertaubat dan memperbaiki seluruh ibadahnya sangat tdk bisa diterima akal, org yang berpuasa dan meninggalkan sholat sementara sholat lebih wajib bahkan saat sakit dan safar pun wajib adaa'an/ditunaikan saat itu juga. berbeda dg puasa wajibnya qodoo'an/diganti pada hari lain.
Kedua, Sholat sangat jauh lebih ringan beberapa menit saja berbeda dg puasa sampai tenggelam matahari. Dan perbandinga2 sehat lainnya.
Semoga alloh mengembalikan akal sehat kaum muslimin.
Ghofarolloh lanaa wa lahum ajmaa'in

Allohulmustaan

musafir di belakang muqim?


[11:16 14/06/2016] ‪+62 823-3368-****:

Seorang musafir sholat dhuhur berjamaah di masjid (bersama jamaah lainnya), pas rokaat kedua musafir ini salam. Kemudian dia berdiri lg dgn niat sholat ashor. Pas imam salam pd rokaat keempat, musafir tsb pun salam. Sehingga dia telah sempurna melakukan jamak qoshor dhuhur dan ashor.
Apakah bs sprti itu ustadz? Ato dia menyempurnakan sholat dhuhur nya dgn 4 rokaat bersama jamaah lainnya? Barokallohu fikum.

[14:31 14/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

Tdk boleh alloh a'lam

Imam dijadikan sbgai imam(pemimpin) untuk diikuti Alhadits

Bagaimana mamum' keluar dg dua sholat mengikuti imam dg satu sholat saja

Allohulmustaan

[15:00 14/06/2016] ‪+62 823-3368-****:

Naam ustadz.

[15:01 14/06/2016] ‪+62 823-3368-****:

Jd mngikuti imam smpai slesai, sampai salam.

dan stelah itu baru dijamak qoshor sholat ashor 2 rokaat. Bgitu ustadz_

[21:12 14/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

Naam tambah sendiri 2 rakaat

haid baca mushaf?


[22:13 17/06/2016] ‪+62 857-2721-****:

Bismillah..
Afwan mau tanya ustad..gimana perincian hukum wanita yg menstruasi membaca al quran..


[13:43 18/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

Boleh bagi seorang wanita masuk ke mesjid, memegang bahkan membaca mushaf saat haid

1. Berdasarkan sabda Rosululloh shollolloh alaih wa sallam
Ya aisyah berikan kepadaku kain khumroh jawabnya saya sedang haid maka beliau bersabda
(إن حيضتك ليست في يدك)
"Sesungguhnya haidmu bukan ditanganmu" riwayat muslim

بوب البخاري في كتاب الصلاة: باب: نوم المرأة في المسجد، وساق حديث عائشة رضي الله عنها أنها قالت: (أسلمتْ امرأة سوداء لبعض العرب. وكان لها حِفْش في المسجد..)

2. Bukhori membuat bab "tidurnya wanita di mesjid" kemudian beliau menyebutkan hadits aisyah rodhiyalloh anha berkata seorang wanita hitam dari bangsa arab mempunyai tempat/tenda kecil tinggal di mesjid...

حديث أبي هريرة: (سبحان الله إن المؤمن لا ينجس)
3. "Subhanalloh sesungguhnya muslim/mumin tdklah najis" beliau katakan kepada abu huroiroh ketika menghindar dari Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam ketika sedang junub maka wanita haid sama hukumnya selama dia menjaga darah haidnya tdk mengotori tempat tsb.

(كان النبي صلى الله عليه وآله وسلم يذكر الله على كل أحيانه) من حديث عائشة في الصحيح.
4. Aisyah berkata "Rosululloh shollolloh alaih wa sallam senantiasa berdzikir kepada alloh pada setiap saatnya"

أما حديث عمرو بن حزم: (لا يمس القرآن إلا طاهر) فإن المعنى هنا (طاهر) أي: ليس بمشرك؛ لأن المسلم لا ينجس، وقال الله تعالى: ﴿إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ﴾
5. Adapun hadits "tdk boleh menyentuh alquran kecuali suci" artinya bukan musyrik berdasarkan firman alloh "sesungguhnya orang 2 musyrik najis"

حديث عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: (إني لا أُحِلُّ المسجدَ لحائض ولا جُنب)
6. Adapun hadits "saya tidak membolehkan masuk mesjid seorang haid pun dan seorang junub pun" dhoif

Untuk lebih lengkapnya silakan baca fatwa syeikhunaa abu abdirrohman alhajuri berikut ini

حكم مس الحائض للمصحف ودخول المسجد (١)

السؤال: هل يجوز للمرأة الحائض دخول المسجد ومس المصحف، مع ذكر الدليل؟

الإجابة: الصحيح أنه يجوز للحائض أن تدخل المسجد وأن تمس المصحف، وعلى ذلك أدلة منها:
- قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم: (يا عائشة! ناوليني الخُمْرَة) قالت: إني حائض! قال: (إن حيضتك ليست في يدك)(٢).
- وحديث عائشة لما حاضت في الحج قال لها النبي صلى الله عليه وآله وسلم: (افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت)(٣)، ولا يزال الحُيَّض يبقين في أشرف المساجد وهو المسجد الحرام دون أمر منه ولا من خلفائه ولا غيرهم بإخراجهن من المسجد الحرام، وقد بوب البخاري في كتاب الصلاة: باب: نوم المرأة في المسجد، وساق حديث عائشة رضي الله عنها أنها قالت: (أسلمتْ امرأة سوداء لبعض العرب. وكان لها حِفْش في المسجد..)(٤). والأصل في النساء أنهن يحضن؛ فقد قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم: (هذا شيء كتبه الله على بنات آدم)(٥)، ولم ينقل أنها كانت في أيام حيضها تخرج من المسجد ولا فيه بيان أنها كانت يائسة من المحيض.
- ومن الأدلة على ذلك أن الحائض المسلمة ليست بنجسة حديث أبي هريرة: (سبحان الله إن المؤمن لا ينجس)(٦)، وإذا كانت طاهرة إلا ما حفظ من موضع الخارج؛ فلا مبرر لإخراجها من المسجد، ولا لمنعها من قراءة القرآن.
- ومنها حديث أم عطية، وفيه: (يشهدن الخير ودعوة المسلمين) والخير عام ودعوة المسلمين عامة من قراءة قرآن وغير ذلك، ثم قال: (وليعتزلن مصلى الناس)(٧)، وقد استدلوا بهذا الحديث على أنها ما تدخل المسجد وهذا الاستدلال فيه نظر؛ فمن المعلوم أن مصلى العيد لا يأخذ أحكام المساجد في هذا ولا في غيره، وإنما لقصد عدم الاختلاط مع الرجال، ويستدل على ذلك بحديث ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم خطب الرجال ثم ذهب وخطب النساء مما يدل على التفاضل والتباين بينهم. نحو هذا ذكر النووي.
وهكذا الأدلة على قراءة الجنب للقرآن باب واحد نذكرها جميعًا: (كان النبي صلى الله عليه وآله وسلم يذكر الله على كل أحيانه) من حديث عائشة في الصحيح.
أما حديث عمرو بن حزم: (لا يمس القرآن إلا طاهر) فإن المعنى هنا (طاهر) أي: ليس بمشرك؛ لأن المسلم لا ينجس، وقال الله تعالى: ﴿إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ﴾ [التوبة:٢٨].
فالشاهد من هذه الأدلة: جواز دخول الحائض والجنب المسجد، ومسهما وقراءتهما للقرآن.
وثبت أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم جاء إلى فاطمة فقال: (أين ابن عمك؟)، قالت: غاضبني فذهب فوجده النبي صلى الله عليه وآله وسلم نائمًا، وقد علاه التراب، فقال: (قم أبا تراب!)، ومن المعلوم أن النائم معرض للاحتلام وللجنابة.
وكان أصحاب الصفة ينامون بصفة جوار المسجد.
وثبت أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: (من استوطن المسجد تبشبش الله له كما يتبشبش أهل الغائب لغائبهم)(٨) الحديث فيه كلام وإنما ذكرناه في جملة أدلة.
فشاهدنا من هذا: جواز دخول الجنب والحائض المسجد، وجواز مسهما للمصحف، وما جاء من حديث عن عمرو بن حزم على أنه قد تُكُلِّم فيه من حيث إن أسانيده كلها لا تخلو من ضعف فيما نعلم؛ لكن قال ابن القيم: تلقته الأمة بالقبول، وسبق أنه محمول على المشرك وليس على الحائض والجنب المسلمَينِ.
أما قصة ابن رواحة(٩)  على فرض صحتها، كما بيناه في الأسئلة الشعرية الحديثية- أن زوجته قالت له: (إنك أتيت جاريتك)، فأنكر ذلك، قالت: (إن كنت لم تأتها فاقرأ آيةً)، فقال:
شهدت بأن وعد الله حق
وأن النار مثوى الكافرينا
وأن العرش فوق الماء طافٍ
وفوق العرش رب العالمينا
ويحمله ملائكة شدادٌ
ملائكة الإله مسومينا
فقالت: (آمنتُ بالله وكذبتُ عيني)، هذه القصة فيها كلام مبين في المصدر الآنف الذكر، وعلى فرض صحتها يكون اجتهادًا من عبد الله بن رواحة وليس ملزمًا.
وممن قال بأن الجنب لا يقرأ القرآن، ومن خالفه معه الدليل الواضح، والدليل مقدم على الاجتهاد.
ومن عمدة القائلين بعدم جواز دخول الحائض والجنب المسجد حديث عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: (إني لا أُحِلُّ المسجدَ لحائض ولا جُنب)(١٠) فمداره على جسرة بنت دجاجة، وهي مجهولة، وقال البخاري: عندها عجائب.
قلت: ومن عجائبها هذا الحديث المخالف لكثير من الأصول، حتى قال النووي: هو ضعيف باتفاق أهل المعرفة.

____________________
(١) الأجوبة السلفية على ما بقي من الأسئلة التي عرضت على العلامة الوادعي رحمه الله تعالى، بتاريخ: ليلة السبت ٢٥ رجب ١٤٢٢ه‍.. دماج - دار الحديث.
(٢) رواه مسلم رقم (٢٩٨-١١).
(٣) رواه البخاري رقم (٣٠٥)، ومسلم رقم (١٢١١-١٢٠).
(٤) البخاري رقم (٤٣٩).
(٥) تقدم بلفظ: (افعلي ما يفعل الحاج..).
(٦) رواه البخاري رقم (٣٨٣)، ومسلم رقم (٣٧١).
(٧) رواه البخاري رقم (٣٢٤)، ومسلم رقم (٨٩٠).
(٨) رواه ابن ماجة (٦٥٢)، وأحمد (ج٢ص٣٢٨)، وهو في الصحيح المسند رقم (١٢٥٣).
(٩) أخرجها الدارقطني في السنن (ج١ص١٢٠)، والبيهقي في الخلافيات رقم (٣٢٢)، وأخرجها ابن أبي الدنيا في الإشراف رقم (٢٣٩).
(١٠) رواه أبو داود، وابن ماجة، والبيهقي (ج٢ص٤٤٣)، عن عائشة.

Tafadhdhol y semangat menerjemah
Baarokalloh fiikum

[10:51 19/06/2016] ‪+62 857-2721-****:

 جزاك الله خيرا.

ibnu hazm, jahmiy?


[14:49 19/06/2016] ‪+62 823-3368-****:

Na'am ustadz. Ini pertanyaan titipan dari seorang ikhwan kita.

بسم الله. السلام عليكم.
عفوا. Antum bs tykan k asatidz atau syaikh yg antum kenal: apa benar ibnu hazm ad dzohiri punya pemahaman / aqidah jahmiyyah?

Barokallohu fikum.

[17:07 19/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

Syeikhul islam ibnu taimiyyah dalam kitabnya "dar'u ta'aarudh" juz 7 hal 263 dan "Majmu alfatawa" juz 4 hal 19 masih menganggapnya sebagai ahlussunnah walaupun dia tergelincir pada perkara menafikan sebagian sifat2 alloh subhanah wa taala.
Berikut cuplikannya:

قال ابن تيمية في درء التعارض: وهذا قول ابن حزم وأمثاله ممن وافقوا الجهمية على نفي الصفات وإن كانوا منتسبين إلى الحديث والسنة
ج٧ ص ٢٦٣

قال شيخ الاسلام في مجموع الفتاوي ٤/ ١٩
(وإن كان " أبو محمد بن حزم " في مسائل الإيمان والقدر أقوم من غيره وأعلم بالحديث وأكثر تعظيما له ولأهله من غيره لكن قد خالط من أقوال الفلاسفة والمعتزلة في مسائل الصفات ما صرفه عن موافقة أهل الحديث في معاني مذهبهم في ذلك فوافق هؤلاء في اللفظ وهؤلاء في المعنى).أ. ه

Berbeda ibnu abdil hadi rohimahulloh (di antara murid senior Syeikhul islam) sudah menghukuminya sebagai jahmi (jahmi jalad) Sebagaimana  dalam kitabnya "thobaqoot ulama alhadits" juz 3 hal 350 biografi tokoh 993
Berikut cuplikannya:

قال الإمام ابنُ عبدِ الهادي - رحمه الله - في " طبقات علماء الحديث " (٣/ ٣٥٠) [الترجمة ٩٩٣]:

" قلتُ: وقد طالعتُ أكثر كتابِ " المِلَل والنِّحَل " لابنِ حَزْمٍ، فرأيتُهُ قد ذكَرَ فيه عجائبَ كثيرةً، ونقولًا غريبةً، وهو يدُلُّ على قوَّةِ ذكاءِ مُؤَلِّفِهِ، وكثرةِ اطِّلَاعِهِ، لكن تبيَّن ليَ مِنهُ أنَّه جهميٌّ جَلِدٌ، لا يُثبتُ من معاني أسماء الله الحُسْنى إلا القليلَ؛ كالخالقِ، والحقِّ.
وسائر الأسماءِ عنده لا تدُلُّ على معنى أصلًا؛ كالرَّحيمِ، والعليمِ، والقديرِ، ونحوِها، بل العِلْمُ عنده هو القُدْرة، والقُدْرة هي العِلْمُ، وهما عينُ الذَاتِ، ولا يدُلُّ العِلْمُ على معنى زائد على الذَّاتِ المُجرَّدةِ أصلًا، وهذا عينُ السَّفْسَطةِ والمُكابَرة ... " إلخ ما قال - رحمه الله تعالى -.

Dari multaqo ahlil hadits 1 juz 77 hal 73 diskusi 98612
هل وصف أحد من أهل العلم الإمام ابن حزم بالجهمى فى باب الصفات؟

Faedah: tergelincirnya seorang pada suatu ucapan, perbuatan atau pendapat yang menyerupai ahlulbid'ah bukanlah argumen yang membolehkan kita serta merta mengeluarkan mereka dari jajaran ahlussunnah sampai ditegakkan padanya hujjah dan menjawab seluruh syubhat2nya sampai kebenaran jelas baginya seterang mentari siang bolong kemudian dia masih ngotot di atas kekeliruannya barulah setelah itu ulama ahli jarh wa ta'dil menjatuhkan jarh/vonis bid'ah padanya

Inilah alasan ulama ahlussunnah tdk mengeluarkan imam hafidz ibnu hajar, imam annawawi dsl dari jajaran ahlussunnah bersamaan dg kemasyhuran mereka dalam menta'wil sifat2 alloh subhanah wa taala.

Baarokalloh fiikum

[19:00 19/06/2016] ‪+62 823-3368-****:

Na'am ustadz. Faedah yg sangat bagus.
Nnt ana smpaikan k ikhwan tsb.

Wafikum barokallohu.

Jazakumullohu khoiro.